ENAM KATA YANG BEGITU MEMESONA

Musim panas di tahun 2011 bagi saya adalah musim panas yang begitu mengesankan. Musim dimana pertama kalinya saya merasakan langsung eksotisme sudut beberapa kota di Belanda. Leiden, Utrecht, Amsterdam dan Mastricht adalah empat kota yang pernah saya kunjungi. Di dua kota pertama ini bahkan sempat bermukim beberapa bulan disana untuk kegiatan  akademik; library research dan summer school. Negara yang terkenal dengan sebutan negara kincir angin ini memang benar-benar menawarkan keindahan setiap jengkal kaki melangkah. Keramahan penduduk, keindahan sungai-sungai kecil yang membelah kota, deretan sepeda pancal yang diparkir di sisi jalan, menambah aroma ‘wangi surgawi’ di negeri yang juga terkenal dengan cantiknya bunga tulip ini. Memang di negeri ‘seribu sungai’ ini, sepeda merupakan salah satu alat transportasi yang banyak digunakan penduduknya. Tidak mengherankan jika segarnya udara yang keluar dari pepohonan di pinggir sungai ditambah jernihnya air sungai membuat orang yang pertama kalinya datang ke negeri ini akan bergumam, ‘seger dan sejuk’!

Sebenarnya bagi saya, proses dari usaha untuk bisa ke Belanda ini bisa dikatakan jauh lebih  terfosil di ingatan dibanding dengan keelokan negeri Belanda. Hal ini kemungkinan disebabkan usaha bertahun-tahun saya untuk bisa ke luar negeri secara gratis selalu kandas oleh ketatnya persaingan beasiswa luar negeri. Sekilas tentang masa lalu, sebenarnya ada proses yang begitu terekam baik di kepala saya hingga mungkin ini salah satu pendorong saya untuk selalu Istiqomah berusaha hingga bisa keterima beasiswa ke luar negeri. Saya masih ingat ketika itu akhir tahun 2010, saya mengontak salah satu calon supervisor untuk program Ph.D di ANU (Australian National University), calon pembimbing tersebut bernama Dr. Johanna Rendle-Shorts, ahli dalam bidang conversation analysis. Setelah tiga kali berkorespondensi, beliau plus dua dosen lainnya yang ahli dalam bidang intercultural communication dan  discourse analysis bersedia menjadi calon pembimbing saya. Satu syarat yang beliau ajukan ketika menerima saya sebagai mahasiswa bimbingannya adalah enam kata yang cukup singkat; reading reading reading, writing writing writing. Saya tidak tahu apa maksud dari beliau ini menyuruh saya untuk membaca (reading) dan menulis (writing) dengan pengulangan sampai tiga kali. Apa urgensinya?

Banyak beasiswa luar negeri yang ditawarkan baik oleh pemerintah Indonesia maupun dari lembaga atau universitas luar negeri kepada warga negara Indonesia. Kendala utama bagi calon pelamar beasiswa khususnya dari Indonesia adalah tidak terpenuhinya nilai Ielts sebagai salah satu syarat untuk proses aplikasinya. Demikian halnya yang saya alami, pada waktu saya dapat calon pembimbing dari ANU tersebut, nilai Ielts saya masih sangat pas-pas an. Bisa dibilang sangat minim. Mungkin karena faktor tersebut, saya selalu di tertolak, tidak keterima beasiswa luar negeri. Sadar akan kekurangan, saya putuskan untuk mengikuti pelatihan Ielts di IALF Surabaya selama 3 bulan, Ielts Preparation nama program tersebut. Program ini memang secara khusus di peruntukkan bagi siswa yang sudah cukup kemampuan untuk langsung fokus ke Ielts. DI sela-sela siswa mengerjakan latihan soal Ielts di setiap pertemuannya, pengajar selalu mengingatkan semua siswa untuk sering membaca graded novel, menonton film dan banyak latihan menulis dalam bahasa Inggris. Perlu di ketahui banyak tersedia jenis graded novel  dan materi-materi lainnya di perpustakaan IALF yang bisa dibaca di tempat maupun dipinjam untuk dibawa pulang. Graded novel disini maksudnya adalah novel yang di beri tanda nomor, seingat saya di mulai dari nomor 3-8.  Dimana novel nomor 3 berarti novel yang sangat sederhana bahasa dan struktur kalimatnya. Novel nomor 4 berarti novel yang bahasa dan struktur kalimatnya lebih komplek dibanding novel nomor 3, begitu seterusnya. Novel nomor 8 adalah novel yang paling tinggi tingkatannya. Sejujurnya hasil dari program pelatihan Ielts selam tiga bulan ini kurang begitu memuaskan. Setelah tes lagi, nilai Ielts saya tidak beranjak dari angka 6, cuma bedanya kali ini angka 6 gemuk. Yang semula reading dapat nilai 6 naik jadi 6,5. Apa yang saya lakukan kemudian, mengikuti pelatihan IELTS lagi? Tentu jawabannya tidak. Selain biayanya yang mahal ternyata hasilnya juga tidak terlalu signifikan.

Teringat kembali akan syarat yang diajukan oleh Dr. Johanna Rendle-Short pada saat saya apply untuk jadi mahasiswa bimibingannya, saya bertekad untuk belajar mandiri. Setiap hari harus membaca membaca dan membaca, menulis menulis dan menulis. Kali ini saya mencoba menerapkan strategi sekaligus mempraktekan syarat yang diminta calon pembimbing saya tersebut., yakni setiap hari minimal 3 jam saya gunakan untuk membaca novel yang saya pinjam dari perpustakaan IALF, membaca  majalah berbahasa Inggris dan menuliskan apa yang sudah saya baca tersebut di buku harian saya di tambah dengan latihan mengerjakan soal IELST di  akhir pekannya. Tidak kurang dari empat bulan sejak saya mempraktekan itu, begitu tes IELTS lagi nilai 6,5 gemuk (hampir 7) saya dapatkan. Nilai IELTS inilah yang kemudian saya gunakan melamar beasiswa research fellow- Indonesia Young Leaders- dari Leiden University. Yang akhirnya summer 2011 saya bisa merasakan seger dan sejuknya udara Belanda.

Apa sebenarnya hubungan antara rutinitas membaca dan menulis dengan kemampuan berbahasa (Inggris)? Dua hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel seorang teman yang sedang studi Ph.D di New Zealand. Artikel tersebut di muat di  Advance Language and Literacy Studies, Australia dengan judul “What Does Good Language Learner (GLL) Say about Foreign Language Learning: A story from an Indonesian Learner. dalam artikel ini dinyatakan bahwa subyek yang menjadi penelitiannya tersebut mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang sangat bagus. Mengingat dia bukan berlatar belakang Bahasa Inggris, dengan nilai IELTS 7,5 pada saat proses seleksi beasiswa ke Australia merupakan hal yang luar biasa. Berdasarkan cerita dari subyek tersebut, ternyata dia sering praktik membaca sumber-sumber berbahasa Inggris selama duduk di bangku kuliah.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, pengalaman saya sendiri, syarat yang diajukan calon pembimbing saya dan rekomendasi dari pengajar pada saat pelatihan IELTS dulu, sebenarnya bermuara pada satu titik, membaca, menonton/mendengar dan menulis adalah hal wajib jika ingin mendapatkan nilai IELTS tinggi atau ingin mengambil degree di luar negeri. Walau akhirnya saya tidak jadi mengikuti calon supervisor saya dari ANU, supervisor saya saat inipun juga setali tiga uang, selalu mengingatkan untuk selalu membaca dan menulis. Beliau selalu bilang “jika kamu hanya membaca, kamu akan lupa. Maka tuliskan apa yang sudah kamu baca tersebut”. Enam kata reading reading reading, writing writing writing benar-benar membawa saya ke dunia yang begitu memesona.

Advertisements

Wedding Invitation

Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh,

Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami

TRIATI DEWI KENCANA WUNGU, Ph.D

(putri ketiga dari Bpk. Gatot Supriadi & Ibu Anih Mulyati)

dan

IRFAN RIFAI, Ph.D

(putra ketiga dari Bpk. Asrori & Ibu Siti Harnaning)

 

bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan kami yang Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Ahad, 20 November 2016

Waktu: 11.00 – 14.00 WIB

Tempat: Gedung Serba Guna Universitas Sangga Buana YPKP, Jl. PH.H Mustopa (Jl. Suci) No. 68, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40124

Akad Nikah:
Hari/Tanggal: Jum’at, 18 November 2016

Waktu: 08.00 – 11.00 WIB

Tempat: Masjid Khusnul Khotimah, Jl. Padasuka BBK Cihapit RT 03 RW 06 Bandung 40192

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami.

Ada Saatnya Sindiran itu Menjadi Kenyataan

Pemburu Beasiswa Luar Negeri

Irfan Rifai

“Oh ta kira sudah sampai Belanda”…“Wah habis pulang dari Inggris ya?” ucapan bernada sindiran seperti ini yang kerap kali saya dengar dari beberapa kawan sekitar 7 Tahun silam ketika beberapa kali usaha melamar beasiswa ke luar negeri belum membuahkan hasil yang membahagiakan. Hasil yang selalu bisa di tebak ujung-ujungnya, “Terimakasih telah melamar beasiswa, dikarenakan begitu banyaknya peserta yang melamar dengan berat hati anda belum bisa masuk nominasi kali ini”.

Sedih pastinya, di saat orang-orang bersuka cita mengabarkan kesuksesan mereka di terima beasiswa ke luar negeri, di saat itu pula suara-suara bernada sindiran selalu terdengar setiap hari. Memang saya bukan mahasiswa cerdas seperti mereka, dan sayapun menyadari bahwa saya hanya lulusan universitas swasta di kota kecil yang bisa di tebak bagaimana kualitas belajar-mengajarnya maupun kualitas akademik mahasiswanya, tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang lulusan universitas ternama di negeri ini.

Apakah saya marah? Sama sekali tidak, justru saya berdo’a dalam hati semoga doa dari teman-teman saya tersebut dikabulkan Yang Maha Kuasa. Ingat, “tutur adalah doa” ketika beberapa teman menyidir seperti itu berarti dia sebenarnya berdoa.

Sejenak mengingat masa lalu. Nama saya Irfan Rifai anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Karena berasal dari keluarga besar dan orang tua yang pendapatannya hanya pas-pas an untuk hidup, kami putuskan untuk ikut paman di kota. Pastinya namanya ikut orang baik itu saudara sendiri maupun orang lain, tidak seenak ikut orang tua sendiri. Kebetulan didikan dari paman ini sangat keras, tidak hanya harus kebal dalam hal mental tetapi juga fisik. Bagaimana hampir setiap hari selalu mendapatkan kata “bodoh” jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, juga pekerjaan rumah yang tidak ada habis-habisnya mulai dari hal-hal kecil sampai yang besar dari sepulang sekolah sampai jam 8 malam dan di teruskan dengan kebiasaan mendengarkan ceramah yang kadang-kadang sampai jam 12 malam. Tidak ada waktu untuk memegang buku apalagi mengerjakan PR, yang ini kadang-kadang membuatku menangis dan meratap sedih
kenapa pada saat saya senang belajar dan membaca buku tidak di beri kesempatan. Sudahlah, semua demi tujuan mulia untuk keluar dari kebodohan dan kemiskinan….

Tahun demi tahun saya lewati, tidak terasa sudah tiga tahun saya ikut paman, tidak terasa pula saya telah menyelesaikan pendidikan SMA. Karena dipandang berdedikasi saya diberi janji akan di kuliahkan dengan catatan harus mengabdi dulu selama setahun. Ternyata dalam kurun waktu tersebut, saya juga di suruh ikut les montir dan bahasa Inggris. Menarik sekali, ternyata saya bisa refreshing keluar rumah untuk bertemu dengan orang-orang ngobrol sana sini, masa yang sangat menyenangkan bagi saya, termasuk saat pertama kali memulai kursus bahasa Inggris. Ketika itu saya di tes berhitung angka 10 sampai 1, apa yang saya lakukan, saya harus menggunakan ke dua tangan saya untuk bisa menjawabnya dan itu butuh waktu beberapa saat. Bagaimana saya menjawab pertanyaan “do you know?”, juga sangat terbayang sampai sekarang. Memang pemahaman saya untuk pelajaran Bahasa Inggris sangat parah, sehingga maklum saya dapat nilai 5 pada waktu Ebtanas. Saya terdiam, dan balas bertanya “do you know itu apa pak?”. Beruntung cara pengajaran kursus ini tidak terlalu kaku, murid-murid banyak di beri waktu luang untuk menghafal bacaan, berkomunikasi dan bertanya jawab dengan bahasa Inggris sehingga hanya dalam waktu sekitar 4 bulan dari yang tidak bisa sama sekali, saya bisa bertanya jawab topik sederhana menggunakan Bahasa Inggris dengan cukup lancar.

Setelah menyelesaikan kedua kursus tersebut saya di suruh daftar kuliah di jurusan Bahasa Inggris di universitas swasta di kota Madiun. Sebenarnya jurusan akuntansi adalah jurusan yang saya idam-idamkan sejak SMP bukan saja karena mata pelajaran ini saya dapat nilai sempurna setiap latihan dan ujian tetapi juga ketertarikan dengan hitung-hitungan dalam neraca membuat saya jatuh cinta untuk mendalaminya. Tetapi kenyataannya saya harus melenceng dari apa minat dan bakat saya untuk melanjutkan ke jurusan akuntansi. Perjuangan yang luar biasa, bagaimana saya harus menyesuaikan diri untuk menyenangi jurusan yang dipilihkan untuk saya, dan sekaligus juga berjuang meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya yang sangat pas-pasan hasil dari kursus selama 4 bulan.

Ternyata walau saya tidak bisa maksimal dalam mengikuti kegiatan akademik kampus (sering bolos) karena sering disuruh pergi luar kota untuk mengurusi berbagai masalah keluarga, saya masih bisa dapat Indeks Prestasi lebih dari 3 sehingga selama setahun saya mendapatkan beasiswa dari Supersemar. Bisa di bilang saya tidak pandai, tetapi mengapa saya selalu dapat nilai bagus? Kemungkinan, saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, saya punya trik untuk selalu memperhatikan apa yang di ucapkan dosen di depan kelas dan kemudian saya menghafalkannya. Jangan dibayangkan saya menghafalkan materi kuliahnya, justru saya menghafalkan cerita dari dosen sehingga pada saat dosen-dosen tersebut bercerita lagi (kecenderungan manusia untuk mengulangi ceritanya) saya langsung bisa menebak dan mengatakannya kembali persis apa yang dosen tersebut pernah katakan . Hal ini membuat dosen-dosen itu heran kok si Irfan ini ingat dengan detail sekali ya apa yang saya katakan , berarti dia sangat perhatian, fikir beliau-beliau itu. Saya tidak tahu apakah gara-gara ini saya sering mendapatkan nilai baik.

Menyelesaikan S1 saya mencoba untuk mencari pengalaman di kota besar dan di terimalah saya di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di Jakarta. Setelah hampir 8 bulan bekerja di Jakarta, saya mendapatkan tugas baru untuk pengembangan jaringan ke wilayah Jawa Timur dan mulailah saya menempati posisi yang cukup bagus, kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Di tengah kesibukan sebagai pengajar dan urusan keadministrasian yang menurut saya tidak ada habis-habisnya, ecara diam-diam saya mendaftarkan diri untuk melanjutkan studi S2 saya di salah satu universitas Negeri di wilayah timur pulau jawa. Karena tidak mendapatkan ijin dari atasan, saya sering tidak masuk kuliah. Yang ini mengakibatkan sering terbengkelainya tugas-tugas kuliah dan penyelesaian masa studi S2 saya. Bayangkan saya harus menyelesaikan dalam waktu 4,5 tahun yang rata-rata teman saya hanya butuh waktu 2– 3 tahun.

Kembali ke masalah beasiswa. Sebenarnya semenjak kuliah S1 saya sudah termotivasi untuk melamar beasiswa. Hal ini disebabkan sering dimintainya pertolongan oleh sepupu saya untuk menyiapkan dokumen-dokumen guna melamar beasiswa Luar Negeri, sehingga secara tidak langsung saya terinfeksi juga dengan demam kuliah ke luar negeri. Semenjak saat itu saya selalu terobsesi untuk bisa kuliah keluar negeri. Obsesi ini masih terbawa terus walaupun saya sedang studi S2 sekalipun terutama pada saat-saat tahun pertama saya kuliah. Saya mencoba mengirimkan beberapa aplikasi luar negeri tetapi semua usaha saya tidak menghasilkan buah yang manis untuk di dengar. Akibatnya, saya menjadi terkenal di kalangan teman-teman saya bahwa saya adalah pemburu beasiswa luar negeri yang selalu gagal sehingga mereka selalu menyindir dengan ucapan yang merujuk pada dua negara Belanda dan Inggris.

Setelah menyelesaikan S2 dan keterima mengajar di Perguruan Tinggi, semangat untuk mendapatkan beasiswa luar negeri semakin berkobar. Modal sebagai dosen membuat saya lebih pede untuk melamar beasiswa lagi. Untuk mengobarkan semangat belajar ke luar negeri, setiap ada pemeran pendidikan saya selalu datang dan membawa pulang brosur berbagai universitas yang saya datangi pada saat pameran tersebut dan meletakkannya di meja belajar sehingga hampir setiap hari saya selalu melihat dan membacanya. Selain itu saya juga browsing universitas-universitas lain yang tidak ada di brosur tersebut kemudian menyimpannya di komputer dengan tidak lupa saya jadikan background salah satu universitas yang saya minati tersebut di layar computer. Sehingga bisa ditebak, hampir semua nama dan tempat universitas-universitas yang saya baca dan browsing tersebut termasuk dosen-dosennya terekam baik di ingatan saya. Dari kegiatan membaca dan browsing universitas-universitas luar negeri, saya jadi tahu keahlian setiap dosen yang ada di universitas-universitas tersebut, yang dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa bidang studi yang sedang ngetrend saat ini mesti menjadi topik interest bagi dosen-dosen di semua universitas dimanapun. Yang tidak kalah pentingnya, ternyata riset topik yang ngetrend itu (bidang saya) selalu di awali dari negara Amerika dan Inggris. Bisa dipastikan ke dua negara ini menjadi kiblat bidang lmu yang akan booming di masa depan. Hal ini saya buktikan, ketika saya browsing di Universitas paling hebat di Amerika dan saya menemukan topik yang saat itu diajarkan baik di tingkat master maupun doktor, yang kemudian saya berkesimpulan bahwa inilah topik yang sedang hangat saat ini. Ternyata benar adanya, setelah saya browsing lagi di universitas-universitas Inggris, kebanyakan calon pembimbing juga tertarik dengan topik riset ini.

Dengan berbekal kepercayaan diri dengan topik riset tersebut saya mencoba melamar empat universitas di Australia. Karena tidak pede dengan kemampuan akademik, saya melamar uni yang tidak nge-top di negara Kanguru tersebut. Apa yang terjadi, ternyata semua uni yang saya lamar tersebut tidak satupun mengabarkan saya keterima dengan alasan tidak ada pembimbing untuk topik riset itu. Hal inilah yang membuat saya mengubah strategy, tidak lagi melamar uni yang kecil tetapi langsung melamar uni yang besar baik di Australia, Inggris dan Amerika. Proses untuk melamar uni di Inggris ini ternyata harus mendapatkan Reference letter yang ditulis langsung oleh sipemberi Reference melalui email yang dikirim oleh universitas. Bergegaslah saya menemui mantan dosen S2 saya yang lulusan luar negeri, dan memohon untuk sekiranya bersedia memberikan rekomendasi untuk melamar universitas-universitas yang di Inggris sekaligus melamar beasiswa Dikti LN. apa yang terjadi, bukan motivasi dan dorongan yang saya terima, justru Beliau memberikan rekomendasi untuk mengambil doktor di dalam negeri dengan alasan bahwa sangat susah kuliah di luar negeri itu. Beruntung masih ada mantan dosen saya yang merasa kasihan melihat saya dan kemudian beliau ini bersedia untuk memberikan rekomendasi kemanapun saya mau melamar. Akhirnya saya melamar 6 universitas di Inggris, 2 universitas papan atas di Australia dan menghubungi 2 calon pembimbing di universitas besar di Amerika. Satu universitas yang di Inggris seminggu kemudian memberikan jawaban bahwa saya keterima dan dikirimlah LOA untuk saya.

Yang selanjutnya LOA ini saya gunakan untuk melamar beasiswa Dikti dan akhirnya sayapun bisa ke panggil untuk wawancara. Dikarenakan LOA saya masih bersyarat saya disuruh untuk mengikuti pelatihan bahasa Inggris selama 4 bulan di Bandung. Berangkatlah saya mengikuti pelatihan IELTS tersebut. Hampir dua bulan saya mengikuti kursus IELTS tersebut, secara kebetulan selepas selesai kelas berbincang masalah beasiswa dengan seorang teman yang menginformasikan adanya beasiswa dari pemerintah Belanda untuk short course selama 6 bulan. Serta merta saya langsung tertarik, tetapi setelah saya baca semua persyaratannya saya jadi ragu untuk melamar, beberapa persyaratan beasiswa tersebut tidak mungkin saya penuhi. Tetapi atas desakan teman tersebut akhirnya saya beranikan diri untuk melamar dan mengirimkan semua dokumen yang saya miliki di hari terakhir. Setelah satu minggu menunggu, tiba-tiba dapat email balasan dari team seleksi beasiswa. Dalam hati saya mesti ini tidak keterima. Bukan hanya nada kalimat pembukaan yang biasanya mencerminkan isi pesan yang ingin disampaikan di kalimat terakhir, tetapi juga nada pesimis kejadian beberapa tahun lalu akan terulang. Kalimat demi kalimat saya baca, tidak juga saya temukan pernyataan yang mengabarkan saya tidak keterima, hal inilah yang membuat saya semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan membacanya dan memastikan bahwa saya memang belum layak untuk menjadi kandidat yang lolos seleksi dan segera akan saya hapus dari file email. Ternyata pada paragraph terakhir di kalimat terakhir tertulis “Selamat anda terpilih menjadi penerima beasiswa dan mohon segera emailkan foto dan pasport untuk keberangkatan awal bulan depan”. Betapa hati saya deg-deg an dan masih tidak percaya bahwa saya keterima beasiswa ke Belanda dan hanya di beri waktu dua minggu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Subhanalah, begitu cepatnya proses itu.

Akhirnya dengan persiapan yang hanya dua minggu, saya berangkat ke Jakarta untuk mengambil Visa. Sangat beruntung, semua urusan administrasi mulai dari pengurusan Visa, tiket dan akomodasi selama saya di Belanda sudah di tangani oleh sponsor. Bergegaslah hari itu juga setelah mengambil Visa, saya langsung ke bandara untuk diterbangkan ke negara yang terkenal dengan Kincir Angin dan Bunga Tulipnya ini, Netherlands, I am coming…

Kebingungan mulai muncul ketika harus turun dari bandara menuju ke stasiun kereta, ya, karena lagi-lagi belum pernah sekalipun bepergian keluar negeri. Bukan hanya Instruksi yang keluar dari pengeras suara memakai bahasa yang tidak familiar di dengar, tetapi juga kebetulan petugasnya kurang antusias untuk menjelaskan tentang waktu dan kereta yang akan saya tumpangi ke tempat tujuan. Dia hanya menunjukkan papan pengumuman untuk dibaca sendiri. Ternyata, setelah saya fikir-fikir, saya di tuntut untuk selalu membaca instruksi yang tersedia dan semua sebenarnya tidaklah terlalu rumit untuk di fahami, ya karena kurang terbiasa dengan budaya tulis dan baca. Dengan perjuangan yang berat harus berganti kereta dua kali dan harus menyeret koper yang beratnya hampir 30 kg ini sejauh hampir 1 km akhirnya sampailah ke tempat tinggal saya, lega rasanya.

Belum sempat memulihkan jet lag, saya harus segera mengikuti kegiatan summer school keesokan harinya, kursus dalam bidang language testing selama sebulan di universitas urutan teratas di Belanda, Utrech University. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa mejadi bagian dari universitas yang terletak di tengah-tengah negara Belanda ini dan sekaligus merupakan salah satu universitas terbesar di dunia untuk penyelenggaraan summer school, ribuan mahasiswa dari seantero Jagat setiap tahunnya datang dan mengikuti kursus di universitas ini. Sebenarnya saya juga tidak tahu kalau Utrech University itu adalah universitas nomer wahid dan nge-top di Belanda, baru setelah beberapa teman memberi tahu bahwa sangat beruntung bisa kuliah di universitas tersebut, ada perasaan bangga dalam hati ini. Terimakasih ya Alloh Engkau telah memilihkan universitas terbaik untuk saya.

Setelah menyelesaikan Summer School di Utrech Uni selama hampir sebulan, saya pindah ke Leiden University untuk mengikuti library research disana untuk sisa waktunya, 4 bulan. Belum genap dua bulan di Belanda satu persatu LOA unconditional dari Universitas-Universitas yang saya lamar baik di Australia maupun di Inggris masuk ke email saya memberitahukan bahwa saya keterima, dua calon pembimbing yang saya kontak di Universitas Amerikapun juga menyatakan kesediaannya dan meminta segera tes GRE untuk aplikasi secara formal. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya pilih Univeristas di Inggris dan berita ini segera saya sampaikan ke pengelola beasiswa yang ada di Indonesia untuk pindah Universitas yang kemudian saya dapat email balik yang mengabarkan kalau saya harus segera angkat koper dari Belanda untuk berangkat lagi ke negara yang bahasanya saya pelajari hampir 13 tahun, Inggris.

Luar biasa jika Alloh sudah berkehendak tidak ada kekuatan satupun yang bisa menghalangi dan semua menjadi sangat mudah. Belum selesai kursus IELTS, saya harus segera berangkat ke Belanda, belum selesai short course di Belanda, saya harus segera berangkat ke Inggris. Alloh Maha Kuasa. Akhirnya keinginan belajar bahasa Inggris ke negara Inggris tercapai. Hal ini sekaligus mengingatkan saya akan sindiran teman-teman “oh ta kira sudah sampai Belanda”, “habis pulang dari Inggris ya”. Seandainya dulu teman-teman menyidir “Amerika, Amerika”, barangkali?

Irfan Rifai. Alumnus Leeds University, United Kingdom


Determine persons

Dua hal yang sering kali dijadikan pegangan ketika berbicara tentang kesuksesan, pertama “nature” (alamiah, bakat) dan yang ke dua “nurture” (training). Kali ini saya tidak akan masuk dalam perdebatan ke dua “school of thought” tersebut, melainkan hanya memberikan wacana perbandingan bagaimana siswa dari beberapa bagian dunia menyikapi kesuksesan itu secara tidak sama.

Sebagai rujukan informasi diatas, saya ambilkan berita dari BBC news yang mengangkat headline berjudul “ China: The World Cleverest Country?”. Dalam artikel ini disebutkan bahwa budaya berperan dalam hal penentuan kesuksesan dan karir yang akan dijalani siswa dimasa yang akan datang. Masih berdasarkan artikel tersebut, dinyatakan bahwa para siswa di Amerika utara menyikapi kesuksesan berdasarkan faktor “luck” atau karena keberuntungan, semisal, karena saya dilahirkan berbakat di bidang matematika maka saya akan menekuni di bidang matematika, karena saya tidak bakat di bidang bahasa maka saya akan mencari keahlian di bidang lain. Di Benua Eropa lain lagi ketika siswa ditanya tentang masa depan, mereka cenderung menjawab bahwa jika orang tuanya seorang guru maka dia cenderung menjawab akan jadi guru atau orang tuanya seorang tukang maka jawabannya tidak jauh dari pekerjaan orang tuanya. Lain lagi ketika para pelajar Cina ditanya tentang masa depannya, dari sepuluh siswa yang ditanya, sembilan diantaranya menjawab bahwa “kesuksesan sangat ditentukan oleh seberapa besar usaha yang saya tanamkan dan kesuksesan sangat ditentukan oleh kerja keras”.

Saya tidak akan menanggapi judul dari berita BBC tersebut apakah Cina negara yang paling pandai di dunia apa tidak, tetapi ketika saya baca laporan media di Inggris bahwa berdasarkan hasil tes seluruh sekolah di Inggris untuk pelajaran berhitung, logika dan membaca, siswa “keturunan” Cina ada di peringkat paling atas, disusul oleh siswa “keturunan” India baru kemudian disusul siswa pribumi. Selain itu, berdasarkan survey surat kabar dinyatakan bahwa siswa dari ke dua negara tersebut, Cina dan India mendominasi mahasiswa yang di terima di OXBRIDGE (Oxford dan Cambridge) dekade terakhir ini.

Menanggapi beberapa jawaban yang berbeda di atas dan informasi yang mendukung tentang jawaban siswa yang terakhir, kita bisa mengatakan bahwa ada yang berpasrah diri terhadap keadaan dan ada juga yang berusaha semaksimal mungkin mengubah keadaan. Nah sekarang bagaimana dengan kita semua, apakah akan berpasrah diri dengan keadaan atau berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan?

Irfan Rifai, Ph.D. student at Leeds University, United Kingdom

York vs New York

“Apakah ada hubungannya antara New York, Amerika Serikat dengan York, Yorkshire, Inggris?” tanya Maha Guru saya. sedikit cerita tentang dua kota yang namanya hampir mirip.

pertanyaan yang mudah tetapi perlu pemahaman bacaan sejarah yang baik, karena memang riwayat ke-2 kota ini sangatlah rumit dan relatif ruwet untuk di runut. sehingga kesimpulan jawabannya pun juga tidak serta-merta tegas dan lugas menjawab pertanyaan tersebut. secara serampangan, memang asal dari kota terbesar di Amerika tersebut berasal dari “YORK” yang ada di sebelah kota LEEDS yang saya tempati saat ini. kok bisa begitu?

Menilik sejarah dari negara “Inggris” yang bersinonim dengan “England” asal kata salah satu suku pada waktu itu “Angles” dengan tanah kekuasaannya “Land” jadilah negara “England”. Di negara ini terdapat sebutan gelar dan tahta kerajaan, salah satu yang sampai saat ini masih dipakai oleh anggota kerajaan (Pangeran Andrew) adalah gelar “Duke of York” selain ada juga gelar “Duke of Albany” untuk Scotlandia.

York di abad ke 18 adalah kota terbesar di wilayah Inggris utara, disanalah awal mula gelar “Duke of York” muncul dan terus berkelanjutan bertahta dan di pakai oleh keturunan keluarga kerajaan. Pada akhirnya gelar “Duke of York” ini dianugerahkan khusus untuk anak ke-2 dari putera mahkota kerajaan. Sedang anak pertama adalah pemegang kekuasaan penuh atas kerajaan Inggris yang kebetulan pada waktu itu di pegang oleh King Charles II, sedangkan adiknya yang bernama James Stuart di anugerahi gelar “Duke of York”.

Karena mungkin ikatan saudara (aji pengawuran, karena wis ngantuk hehehe)…, King Charles II memberikan tanah kepada adiknya yang bernama James Stuart yang bergelar “Duke of York”, dan kemudian tanah ini di beri nama oleh James Stuart dengan sebutan “New York”.

“Hubungan yang erat “Sir”.” kata saya di akhir percakapan.

Percakapan saya, Irfan Rifai dengan Prof. Soekemi, Unesa.

Mistis tetapi tidak mistis

BARANG SAMA FUNGSI BEDA

Apa yang anda lakukan jika tiba-tiba di depan pintu rumah anda atau di sekeliling rumah anda banyak bertebaran garam?

Sudah menjadi hal yang lumrah jika ada garam bertebaran di sekitar rumah, apalagi bukan kita atau keluarga kita yang melakukan, kecurigaan akan adanya ancaman yang tidak nampak (gaib) serta merta terbayang di kepala kita. sangat mahfum di negara kita terutama tradisi jawa bahwa garam sering digunakan sebagai sarana untuk melakukan hal-hal yang di luar kewajaran logika, semisal untuk mencelakai si pemilik rumah, menjaga rumah dari ancaman yang tidak kelihatan mata kasat atau untuk tujuan lainnya.

Nah sekarang bagaimana jika garam itu banyak berserakan di depan rumah, depan pintu masuk kampus, di jalan-jalan seperti di tempat saya saat ini?Tentu jawabannya bukan seperti jawaban tersebut diatas, apalagi ini terjadi di negara Inggris, negara yang sudah lama meninggalkan hal-hal yang berbau mitos yang dulu dipercaya pada zaman medieval, negara yang mengedepankan logika berfikir dan ilmu pengetahuan.

Jawabannya adalah garam tersebut digunakan untuk melehkan air atau salju yang menjadi es, karena kalau tidak di cairkan akan sangat berbahaya untuk para pejalan kaki, jalan bisa sangat licin dan bisa-bisa terpeleset jatuh dan cedera…seperti yang saya alami sendiri musim dingin kemarin.

Dendam yang melejitkan Anda

Seandainya saya dulu tidak di “nyek” oleh teman-teman dan Professor saya, mungkin saya tidak akan tahan untuk membaca buku berjam-jam dan berlama-lama bersujud di hadapan-Nya, hingga bisa mengelana mencari ilmu ke benua Eropa.

Seandainya dulu pelajar Inggris terus diperbolehkan untuk belajar di Perancis, mungkin Oxford university, universitas tertua di negara yang berbahasa Inggris tidak akan pernah berdiri. Seandainya dulu Pak Standford di terima baik-baik oleh staff Harvard University ketika ingin mendaftarkan anaknya kuliah di universitas tersebut, barangkali tidak akan pernah ada yang namanya Stanford University, salah satu saingan berat Harvard University untuk menduduki tempat universitas terbaik di muka bumi ini.

“Dendam” dalam arti positif sangat bisa membuat kejutan-kejutan yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Siapa sangka Oxford University akhirnya menjadi salah satu universitas terbaik di dunia dan menjadi cikal bakal universitas-universitas paling hebat di dunia termasuk Cambridge dan Harvard, jauh melebihi dari Sorborne University, Paris Perancis yang dulu pernah menolak pelajar Inggris untuk belajar disana. Siapa sangka, Pak Standford yang pada waktu datang ke Harvard dengan pakaian sangat sederhana akhirnya bisa mendirikan universitas yang setara dengan universitas yang salah satu staffnya “ngenyek” bahwa dia tidak akan mampu bayar.

Ternyata kekuatan “dendam” itu sangat bisa membuat siapapun menjadi jauh lebih hebat dari sebenarnya. So? Bagaimana menurut anda?

Refleksi Irfan Rifai ketika di ‘nyek’ oleh seorang guru besar

Mbah Adam Smith

Foto ini mengingatkanku pada saat mengikuti pelajaran ekonomi sewaktu SMA dulu, masih ingat betul pak guru yang mengajar pelajaran ekonomi ini sangat “galak”, tidak hanya badannya yang kekar (karena seorang mantan petinju) tetapi juga karakter yang ringan tangan, bikin ciut nyali deh pokoknya hehehe… tetapi terkadang dengan cara ini bisa membuat siswa mengingat akan karakter, style, dan bahkan materi yang pernah disampaikan beliau ini. Nah salah satu materi pelajaran ekonomi waktu itu yang masih teringat sampai sekarang adalah tentang salah satu dewanya Ekonomi Dunia “Adam Smith”.

Beliau ini salah satu Fans berat dari Mazhabnya “Adam Smith”, sehingga bisa dibayangkan kalau Pak guru ekonomi tersebut bisa mengunjungi tanah kelahiran serta monumennya sang maestro yang dilahirkan dan dididik di Edinburgh University, Skotlandia pada abad 18 ini, pastinya akan sangat lebih menjiwai untuk mengajarkan mata pelajaran ekonomi dengan sub pokok bahasan “the Wealth of Nation” salah satu “kitab suci” yang dihasilkan oleh “Adam Smith” tersebut. Tidak berlebihan kiranya ditasbihkan sebagai pakarnya ekonomi dunia, karena memang salah satu teorinya tentang “Supply and Demand, jika ada permintaan banyak dan barang sedikit maka otomatis harga akan naik tetapi sebaliknya jika permintaan sedikit sedangkan barang banyak maka harga akan jatuh” masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Karena memang tidak memungkinkan bagi si pak Guru ekonomi tersebut berkunjung dan melihat langsung idolanya ini, ya….akhirnya mantan murid beliau inilah yang akhirnya menjadi kepanjangan tangan untuk menyampaikan salam hangat di suhu yang minus 2 untuk patung “Pak Adam Smith”
Sambil memegang kakinya,
seraya mengatakan ” Salam kenal dari mantan guru saya Pak Adam Smith”……..

Edinburgh, Skotlandia, 1 Januari 2012

Refleksi Irfan Rifai ketika diajar guru yang sangat galak sewaktu SMA

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑